Senin, 25 April 2011

Kabupaten Pakpak Bharat Sebagai Kabupaten Pertama yang Dikunjungi oleh Tim Awareness PNPM-LMP di Provinsi Sumatera Utara

Kabupaten Pakpak Bharat merupakan kabupaten pertama yang dikunjungi oleh Tim Awareness PNPM-LMP di Provinsi Sumatera Utara setelah selesai melakukan kegiatan penyadartahuan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sebelum melakukan kegiatan penyadartahuan, Tim Awareness mengumpulkan informasi dari CSO Kabupaten Pakpak Bharat tentang desa-desa yang akan dikunjungi serta isu-isu yang akan diangkat dalam diskusi dengan masyarakat. Isu-isu yang terkait dengan konservasi alam dan pelestarian lingkungan dalam PNPM-LMP yaitu tentang pemanfaatan jasa hutan, hutan tanaman rakyat/agroforestry, perlindungan sumber air, pertanian organik, perusakan lingkungan (konversi lahan, perambahan hutan, illegal logging), dan sebagainya.

Kegiatan penyadartahuan yang dilakukan oleh Tim Awareness PNPM-LMP telah dilaksanakan pada tanggal 17–25 Maret 2011 untuk tiga kecamatan yaitu Kecamatan Salak, Kerajaan, dan STTU Jehe; di delapan desa yaitu Desa Kuta Tinggi, Kuta Dame, Kuta Saga, Pardomuan, Surung Mersada, Perolihen, Simberuna, dan Tanjung Mulia.



Tim pelaksana kegiatan adalah tim bersama yang terdiri dari komponen konsultan yaitu ASTAL dan FKL dan Tim Awareness PNPM-LMP serta CSO Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan penyadartahuan dilakukan melalui presentasi dan pemutaran film disertai dengan diskusi terbuka. Beberapa film pendukung PNPM-LMP yang ditayangkan antara lain film tentang biogas, pembuatan kompos, dan pemeliharaan kebun kakao. Dalam kegiatan tersebut juga disebarkan material penyadartahuan berupa poster.

Masyarakat mengharapkan banyak memperoleh informasi tentang pengelolaan lahan pertanian yang kondisinya miring. Masyarakat sangat antusias untuk berdikusi tentang pertanian organik. Hal lain yang juga meresahkan masyarakat adalah hama besar yang merusak tanaman di kebun masyarakat seperti babi hutan, monyet ekor panjang, dan beruk. Pembasmian hama dengan membunuh satwa tersebut terutama jenis kera tidak berani dilakukan masyarakat walaupun ada sebagian masyarakat yang menembak satwa tersebut dengan senapan angin jika masuk ke kebun dan merusak tanaman. Masyarakat tidak berani membunuh dikarenakan takut terkena sanksi hukuman, sehingga masyarakat sangat resah dan bingung apakah jenis satwa tersebut dilindungi atau tidak. Masyarakat sangat mengharapkan respon dari pemerintah daerah maupun pihak terkait seperti Dinas Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam untuk memberikan sosialisasi tentang status satwa tersebut serta solusi bijak dalam mengatasi satwa yang menjadi hama tersebut.

Masyarakat juga berhadap adanya peningkatan kapasitas melalui kegiatan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan PNPM-LMP. Sebaiknya narasumber atau pelatih didatangkan langsung ke daerah agar dapat melihat langsung kondisi di daerah mereka dan dapat memberikan masukan kepada masyarakat tentang pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam yang mereka miliki.


Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pelaksanaan kegiatan penyadartahuan yang dilakukan oleh Tim Awareness PNPM-LMP terdapat hambatan yang dihadapi terutama faktor cuaca. Di hari terakhir pada tanggal 24 Maret 2011 dijadwalkan akan dilakukan kegiatan penyadartahuan di dua desa yaitu Desa Tanjung Mulia dan Desa Malum. Akibat hujan deras menyebabkan pohon besar tumbang menutupi jalan lintas Pakpak Bharat – Subulussalam sehingga tim tidak dapat melanjutkan kegiatan di Desa Malum.

Kegiatan penyadartahuan di dua desa di Kecamatan Salak yaitu Desa Penanggalan Binanga Boang dan Desa Boang Manalu batal dilaksanakan karena pada tingkat aparatur desa tidak menanggapi positif kegiatan penyadartahuan yang akan dilaksanakan dan telah dijadwalkan. Informasi yang diperoleh Tim Awareness dari masyarakat sekitar lokasi tersebut bahwa masyarakat jenuh dengan rutinnya kegiatan pertemuan yang dilaksanakan di desa mereka.

Kegiatan penyadartahuan yang telah dilakukan cukup mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat desa yang dikunjungi. Hal ini terlihat dari antusias masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan pertanyaan dalam kegiatan diskusi. Membangun komunikasi yang baik merupakan jembatan bagi lancarnya suatu program yang akan dilaksanakan. Tim Awareness mencoba untuk berbagi informasi dan pengalaman yang didapat dari daerah lain yang telah dikunjungi dalam PNPM-LMP kepada masyarakat yang dikunjungi.

Dukungan masyarakat terhadap program ini tentunya sangat diharapkan agar masyarakat dapat terlibat langsung dan berperan aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan di desa mereka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan hal terpenting yang harus dibangun. Dengan pengetahuan yang diperoleh masyarakat dari berbagai kegiatan dalam PNPM-LMP diharapkan dapat memberikan pemahaman dan penyadaran tentang pentingnya pelestarian lingkungan demi kelestarian sumber daya alam.

Kegiatan penyadartahuan yang berjalan secara terus menerus dengan cakupan wilayah yang lebih luas diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat serta keikutsertaan mereka dalam mendukung program ini.

Jumat, 08 April 2011

Sebuah Kelompok Sispala Mengadakan Kegiatan Penyuluhan Lingkungan dan Pelatihan Daur Ulang Kertas


Kamis (3/3/11), seorang Guru Pembina Kelompok Sispala (Siswa pencinta Alam) SMA Negeri 1 Pancur Batu mengantarkan sepucuk surat yang menyampaikan keinginan mereka melibatkan YOSL-OIC untuk melakukan kegiatan penyuluhan lingkungan kepada siswa/i yang tergabung dalam Kelompok Sispala. Menindaklanjuti surat tersebut, maka tim penyadartahuan dari YOSL-OIC menanggapi positif kegiatan tersebut dengan menyetujui jadwal yang sudah mereka rencanakan untuk kegiatan school visit (kunjungan sekolah).

Tujuan dari kegiatan school visit yang dilakukan oleh tim penyadartahuan YOSL-OIC adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan memberikan penyadaran kepada siswa/i yang tergabung dalam Kelompok Sispala SMA Negeri 1 Pancur Batu tentang konservasi alam dan pelestarian lingkungan. Serta memberikan motivasi kepada siswa/i tersebut untuk dapat turut serta secara aktif dan berpikir kreatif dalam upaya-upaya konservasi alam dan pelestarian lingkungan tersebut.

Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dengan kelompok sispala tersebut, maka tim penyadartahuan melaksanakan kegiatan school visit pada tanggal 5 Maret 2011 ke SMA Negeri 1 Pancur Batu. Kegiatan yang dilakukan dalam school visit tersebut yaitu berupa penyampaian materi tentang pengelolaan lingkungan sekolah dan kegiatan pelatihan pelatihan daur ulang dari sampah kertas yang terdapat di sekitar lingkungan sekolah. Penyampaian materi tersebut dibarengi dengan pemutaran film lingkungan, diskusi interaktif, dan games.

Siswa/i anggota sispala yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 45 orang (17 orang laki-laki dan 28 orang perempuan) dengan didampingi oleh dua orang guru pembina sispala. Dari kegiatan diskusi tim penyadartahuan YOSL-OIC mencoba untuk memandu siswa menemukan permasalahan lingkungan di sekolah mereka kemudian siswa diajak untuk melihat potensi/sumber daya apa saja yang mereka miliki dan mencari solusi bersama yang dapat mereka lakukan untuk mengatasi permasalah tersebut. Pada akhirnya mereka dapat menarik kesimpulan tentang hal-hal apa saja yang dapat mereka lakukan dari ide-ide yang mereka hasilkan dan dapat dipertanggungjawabkan bersama dalam mengatasi permasalahan lingkungan di sekolah mereka melalui kelompok sispala.

Siswa/i tersebut juga sudah dapat membuat kertas daur ulang mulai dari yang biasa, berwarna, hingga yang memiliki corak. Mereka berinisiatif akan mengembangkan kegiatan daur ulang kertas tidak hanya menjadi kertas kembali tetapi juga menjadi bentuk-bentuk lain yang dapat dimanfaatkan.

Kamis, 07 April 2011

Tim Awareness PNPM-LMP Sumatera Bergerak Menuju Kabupaten Terakhir di Nanggroe Aceh Darussalam


Rabu (9/2/11, Tim Awareness berangkat menuju Kabupaten Aceh Tengah sebagai kabupaten ketiga di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam untuk kembali melakukan roadshow penyadartahuan PNPM-LMP. Tentunya kedatangan Tim Awareness di daerah tersebut mengemban misi untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang pelaksanaan PNPM-LMP serta memberikan pemahaman dan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi alam dan pelestarian lingkungan. Sehingga diharapkan dari kegiatan penyadartahuan yang telah dilakukan, masyarakat dapat mengelola lingkungan dan sumber daya alam yang dimiliki secara lestari dan berkelanjutan untuk mendukung kesejateraan hidup mereka.

Selama lebih kurang sepuluh hari melakukan kegiatan penyadartahuan di Kabupaten Aceh Tengah, Tim Awareness PNPM-LMP telah mengunjungi tujuh desa yang tersebar di tiga kecamatan yang menjadi pilot project PNPM-LMP yaitu Kecamatan Pegasing, Kebayakan, dan Kute Panang. Adapun desa-desa yang telah dikunjungi yaitu Desa Panangan Mata, Pedekok, Kayu Kul, Jungok Meluem, Timangan Gading, Kelupak Mata, dan Pantan Sile.

Dalam melaksanakan kegiatan penyadartahuan Tim Awareness didampingi oleh CSO Kabupaten Aceh Tengah, FKL dari tiap-tiap kecamatan, serta UPK maupun KPMD setempat. Penyampaian informasi tentang PNPM-LMP dilakukan dengan beberapa metode dan materi untuk mencapai hasil yang maksimal dari kegiatan penyadartahuan yang dilakukan kepada masyarakat tentang program PNPM-LMP yang sedang berjalan di wilayah mereka.

Informasi yang disampaikan oleh Tim Awareness berupa penjelasan singkat tentang PNPM-LMP, jenis-jenis kegiatan yang dapat diusulkan atau negative list (red : yang dilarang) dalam PNPM-LMP. Selain itu untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang lingkungan maka dilakukan pemutaran film lingkungan antara lain ”Hutanku Hilang Dalam Satu Menit” dan ”Turtle World”. Tim Awareness juga memutar film tentang biogas dan cara pembuatan kompos untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam perencanaan serta pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam.

Untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, Tim awareness juga melakukan diskusi terbuka sekaligus membagikan material penyadartahuan berupa buku bacaan untuk orang dewasa dan anak-anak berjudul “Ayat-ayat Konservasi” dan “Teman Hutan”.

Dari kegiatan diskusi terbuka yang dilakukan dengan masyarakat banyak pendapat serta pandangan masyarakat baik terhadap program maupun terhadap kondisi lingkungan saat ini. Masyarakat menganggap bahwa untuk Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari PNPM-LMP sangat dibutuhkan tim monitoring dalam mengawasi kegiatan yang sudah dilakukan oleh masyarakat agar program tersebut berkelanjutan. Masyarakat menyampaikan bahwa kegiatan penyuluhan lingkungan seperti ini jangan hanya disampaikan kepada masyarakat, tetapi para pemangku kebijakan (red : aparat pemerintah) harus paham terlebih dahulu tentang lingkungan. Masyarakat juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah jangan hanya berpangku tangan dengan maraknya kegiatan penebangan liar terhadap kawasan hutan yang terjadi di daerahnya.

Masyarakat mengusulkan untuk kegiatan penyadartahuan di masa mendatang jangan hanya ditayangkan film-film yang berdampak negatif dari kerusakan lingkungan tetapi juga dapat ditayangkan film-film yang mengekspos oknum-oknum pejabat yang terlibat dalam perusakan hutan dan lingkungan.

Cuaca hujan menjadi faktor eksternal yang menjadi hambatan bagi Tim Awareness dalam melaksanakan kegiatan penyadartahuan kepada masyarakat. Sedangkan faktor internal yang menjadi hambatan yaitu upaya koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan PNPM-LMP. Namun hingga saat ini berbagai hambatan dalam pelaksanaan kegiatan penyadartahuan yang dilakukan oleh Tim Awareness PNPM-LMP masih dapat disikapi dan ditangani dengan bijak oleh berbagai pihak yang terkait dalam kegiatan ini. Semoga dengan adanya PNPM-LMP dapat membawa perubahan terhadap pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam ke arah yang lebih baik, ramah lingkungan, lestari, dan berkelanjutan.

Rabu, 06 April 2011

Tim Awareness PNPM-LMP Bergerak ke Aceh Timur

Setelah melakukan kegiatan penyadartahuan di Kabupaten Aceh Selatan pada akhir tahun 2010 lalu, memasuki Januari 2011 ini Tim Awareness PNPM-LMP menuju Kabupaten Aceh Timur untuk melaksanakan kegiatan serupa. Sebelum berangkat, Tim Awareness telah melakukan beberapa evaluasi terhadap kegiatan penyadartahuan yang telah dilakukan sebelumnya. Evaluasi bertujuan agar Tim Awareness nantinya dapat memberikan gambaran kepada seluruh pihak yang terlibat tentang kegiatan yang telah dilaksanakan serta untuk mendapatkan informasi tentang kondisi-kondisi yang akan dihadapi di lapangan secara teknis. Dengan adanya kegiatan evaluasi maka Tim Awareness diharapkan dapat menyelesaikan kendala-kendala di lapangan serta meminimalisasi timbulnya permasalahan selama melaksanakan kegiatan.


Kegiatan penyadartahuan di Kabupaten Aceh Timur telah dilaksanakan pada tanggal 19 – 30 Januari 2011 mencakup tiga kecamatan yaitu Darul Aman, Serba Jadi, dan Simpang Jernih. Desa-desa yang telah dikunjungi oleh Tim Awareness PNPM-LMP yaitu Desa Keumuneng 2, Desa Alue Merbo, Desa Abgok Panah 2, Desa Tualang, Desa Lokop, Desa Rantau Panjang, dan Desa Simpang Jernih, serta satu sekolah yaitu SMA Negeri 1 Darul Aman.

Dari kegiatan penyadartahuan yang telah dilakukan, masyarakat di lokasi pilot project mulai memahami prinsip dan kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilakukan dan yang dilarang dalam PNPM-LMP. Terbangunnya komunikasi yang baik dengan masyarakat selama kegiatan penyadartahuan, hal tersebut terlihat dari respon masyarakat dalam menyampaikan pendapat maupun pertanyaan. Salah seorang masyarakat menyampaikan bahwa dahulu sumber daya alam tersedia melimpah dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat seberapapun dibutuhkan. Namun semakin berkembangnya zaman dan semakin banyaknya jumlah penduduk di muka bumi serta berubahnya perilaku manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam tersebut malah membuat kehidupan manusia terancam karena manusia tidak memikirkan kelestarian alam dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Masyarakat juga mengharapkan informasi tentang PNPM-LMP dapat disampaikan lebih intensif lagi kepada masyarakat sehingga masyarakat benar-benar terlibat mulai dari perencanaan, perancangan, pelaksanaan, sampai pengevaluasian kegiatan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi daerah yang dikunjungi oleh Tim Awareness PNPM-LMP hampir sebagian besar adalah daerah yang tersebar jauh dan terkadang infrasturktur jalan sulit dilalui dengan kendaraan biasa. Komunikasi maupun penyebaran informasi harus rutin dan intensif dilakukan oleh Tim Awareness dengan pelaku-pelaku teknis PNPM-LMP di lapangan agar kegiatan penyadartahuan di desa-desa dapat terlaksana dengan tepat dan berjalan dengan lancar.

Kamis, 13 Januari 2011

Roadshow PNPM-LMP di Aceh Selatan

Pada tahun 2007 Pemerintah Indonesia mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM Mandiri Pedesaan). Namun Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai salah satu program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan belum banyak menyentuh aspek lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam, sehingga penggalian gagasan dan usulan kegiatan selama ini yang muncul dari masyarakat yang terkait dengan aspek tersebut masih sedikit. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya agar aspek lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam menjadi bagian integral dari aktivitas pembagunan masyarakat di pedesaan.

Dengan pengintegrasian komponen lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya alam kedalam Progam PNPM Mandiri Perdesaan, selanjutnya disebut dengan PNPM Lingkungan Mandiri Pedesaan (PNPM-LMP) maka kegiatan ini akan mengutamakan perbaikan dan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam secara lestari kedalam salah satu program nasional dalam penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi di Indonesia.
PNPM-LMP bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di pedesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan pedesaan melalui pengelolan lingkungan dan sumber daya alam secara lestari.  Disamping itu juga terdapat tujuan khusus yaitu meningkatkan  kesadaran masyarakat perdesaan,  kapasitas masyarakat dan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam yang berkelanjutan serta meningkatkan tata pemerintahan lokal dalam perencanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Untuk menyebarluaskan informasi tentang pelaksanaan PNPM-LMP ini maka diperlukan suatu kegiatan sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat desa terutama di daerah-daerah pilot project agar masyarakat paham dan mengerti tentang program ini. Sehingga masyarakat dapat membuat perencanaan yang matang dalam mengajukan usulan kegiatan yang terkait dengan perbaikan dan pengelolaan lingkungan serta sumber daya alam secara lestari di desanya.

Mobile Awareness Unit-Orangutan Information Centre (MAU-OIC) bergabung dalam PNPM-LMP untuk memberikan awareness (penyadaran) sekaligus sosialisasi tentang program ini dibawah koordinasi Conservation Information Mobile-Wildlife Conservation Society (CIMO-WCS) telah melakukan roadshow PNPM-LMP ke Kabupaten Aceh Selatan pada tanggal 12-21 Desember 2010.
Kabupaten Aceh Selatan termasuk salah satu dari tiga kabupaten selain Aceh Timur dan Aceh Tengah sebagai lokasi PNPM-LMP. Di Aceh Selatan terdapat tiga kecamatan yang menjadi pilot project yaitu Kluet Tengah, Kluet  Timur, dan Pasie Raja. Ketiga kecamatan tersebut memiliki tanah yang subur, hal ini memberikan keuntungan bagi usaha pertanian sebagai tulang-punggung ekonomi daerah. Potensi perekonomian bergantung pada komoditi kakao, kemiri, nilam, pinang, padi, palawija, serta tanaman sayuran, dan juga peternakan serta perikanan air tawar.

MAU-OIC selama roadshow ke Kabupaten Aceh Selatan telah mengunjungi enam desa yaitu Desa Krueng Kalee, Ujung Padang Raisan, Lawe Sawah, Ladang Tuha, Koto Menggamat, dan Desa Mersak. Dalam kegiatan roadshow ini dilakukan pemutaran film lingkungan dan diskusi dengan masyarakat. Dari diskusi yang dilakukan dengan masyarakat muncul pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan langsung dengan usulan yang diajukan masyarakat dalam BLM (Bantuan Langsung Masyarakat). Masyarakat juga menyampaikan alasan-alasan tentang usulan-usulan yang diajukan dalam PNPM-LMP. Salah satu pendapat yang disampaikan adalah masyarakat di daerah menyambut gembira dengan adanya PNPM-LMP dari pemerintah pusat tetapi juga merasa program ini akan sia-sia karena saat program ini dilaksanakan di suatu daerah untuk menyelamatkan lingkungan, sementara di sisi lain di daerah tersebut terjadi pengrusakan lingkungan yang dilakukan oleh pihak tertentu (perusahaan/oknum) karena mempunyai izin yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat.
Selama roadshow, Tim MAU-OIC membagikan beberapa material penyadaran di desa-desa yang dikunjungi berupa buku untuk masyarakat berjudul ” Ayat-ayat Konservasi” yang berisi pandangan Islam tentang konservasi dan juga buku untuk anak-anak  berjudul ”Teman Hutan”. Di saat senggang Tim MAU-OIC juga membuka perpustakaan keliling untuk masyarakat.

Kamis, 09 Desember 2010

ASUS Foundation Tambah Tujuh Digital Opportunity Center

Rabu, 1 Desember 2010 | 00:04 WIB
 Serah terima simbolis bantuan Asus Foundation untuk Digital Opportunity Center
JAKARTA, KOMPAS.com - Di penghujung tahun ini, ASUS Foundation bekerja sama dengan Institute for Information Industry (III) dari Taiwan mengumumkan dibukanya tambahan tujuh Digital Opportunity Center (DOC) yang tersebar di Thailand dan Indonesia. Sejak 2008, ASUS Foundation dan III telah ikut serta menjadi bagian dari proyek APEC Digital Opportunity Center (ADOC) 2.0, yang memberikan edukasi digital bagi wanita dan anak-anak kurang mampu di kawasan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation).

"Kami merasa terhormat bisa membantu lembaga non-profit dalam kegiatan yang mulia ini. Mereka adalah pahlawan yang sebenarnya, dengan mencoba meningkatkan kehidupan masyarakat, dan kami berharap dapat memberikan kesempatan lebih untuk belajar secara elektronik bagi semua orang di wilayah ini," kata Ivy Lee, Chief Operation Officer dari ASUS Foundation dalam siaran persnya, Selasa (30/11/2010).

Di Indonesia, ASUS Foundation dan III mempersiapkan pembukaan lima DOC, dua di antaranya difasilitasi oleh Yayasan Budha Tzu Chi Wiyata yang telah diresmikan pada  Selasa (30/11/2010). Dilanjutkan dengan peresmian dua DOC bertempat di Universitas Syiah Kuala yang diresmikan pada Kamis 2 Desember 2010 di Banda Aceh. Kemudian satu DOC bertempat di Orangutan Information Centre (OIC) yang diresmikan pada Jumat 3 Desember 2010. Sedangkan di Thailand, pada 1 Desember secara resmi telah dibuka dua DOC, bertempat di dalam Kamp Mae La dan Umpieum Mai. Digital Opportunity Center  (DOC)di kawasan APEC kini sudah tersebar lebih dari 60 lokasi.

Selama dua tahun terakhir, kolaborasi ini telah menjangkau lebih dari 15.000 orang, dan akan terus melanjutkan gerakan ini untuk membantu memberikan kesempatan pembelajaran elektronik (e-learning) bagi mereka yang tidak memiliki akses ke komputer. Di lokasi DOC tersebut akan dilengkapi dengan PC all-in-one dan notebook terbaru ASUS untuk mereka yang belum familiar dengan komputer.

sumber: http://tekno.kompas.com

Senin, 06 Desember 2010

Orangutan di Rumah Sekda Langkat Disita Petugas

Jumat, 03/12/2010 23:15 WIB
Khairul Ikhwan - detikNews


Medan - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara mengambil seekor orangutan sumatera (Pongo abelii) dari rumah Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Langkat Surya Djahisa, Jumat (3/12/2010). Pengambilan itu dilakukan setelah orangutan sempat dipelihara beberapa lama di rumah tersebut.

Surya Djahisa langsung menyerahkan orangutan tersebut kepada tim BBKSDA yang datang ke kediamannya yang berada di Stabat, ibukota Langkat. Kepada wartawan dan petugas dari BBKSDA, Surya Djahisa menyebutkan, orangutan sumatera berjenis kelamin betina itu dia peroleh dari salah seorang pegawai di Dinas Pekerjaan Umum Langkat. Pegawai yang ia lupa namanya itu, menurut Surya, sempat meminta uang sebesar Rp 5 juta.

Tetapi Surya Djahisa mengaku tidak memenuhi permintaan uang tersebut, dengan alasan orangutan itu bukan untuk diperjualbelikan. Surya menyebutkan sedari awal ia menerima orangutan tersebut, ia sudah memberitahukannya ke pihak Balai Besar Taman nasinal Gunung Leuser (BBTNGL). Tetapi ia meminta waktu untuk merawat karena orangutan tersebut kondisinya tidak sehat.

"Dari sejak awal saya sudah mau menyerahkannya ke pihak Balai TNGL, tetapi karena kondisinya sakit, saya minta diberi waktu untuk merawatnya," ujar Surya.

Lebih lanjut Surya menyebutkan, untuk menyembuhkan orangutan yang diperkirakan berumur dua tahun itu, ia memanggil dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan. Hasilnya, bayi orangutan tersebut berangsur sehat, meski hanya mau makan nasi dan minum susu.

Surya menyatakan, ia bersedia merawat orangutan tersebut karena ia penyayang binatang. Karena itu, selama dirawat di areal perladangan miliknya yang dibentuk seperti kebun binatang mini di daerah Petumbukan, Langkat, ia berusaha menyediakan kandang yang sesuai dengan habitat orangutan.

Selain sempat memelihara orangutan, Surya Djahisa juga memelihara sejumlah satwa seperti kuda, rusa dan berbagai jenis burung di ladangnya. Sementara di rumah pribadinya, Surya juga memelihara berbagai jenis burung, salah satunya burung beo yang sudah pintar berbicara.

Orangutan sumatera itu kemudian dititipkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera yang dikelola Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) – Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) yang terletak di Desa Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Bagi SOCP-YEL, orangutan ini merupakan orangutan sumatera ke 200 yang diterima SOCP-YEL sejak tahun 2000 lalu.

(rul/mad)

sumber berita: www.detiknews.com
sumber video: http://tv.liputan6.com