| Written by Redaksi Web |
| Wednesday, 27 October 2010 06:26 |
| Demi kesenangan pribadi, seorang warga sipil yang tinggal di Komplek Setia Budi Blok QQ No. 20 Medan nekat memelihara satwa dilindungi. Secara illegal, orangutan dibeli dari seorang warga di Sunggal seharga Rp 2 juta. Ironisnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut gagal mengeksekusinya. Aksi memelihara hewan liar yang dalam bahasa latinnya bernama Pongo abelii itu semula telah terendus tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut, setelah memperoleh informasi dari masyarakat sekitar yang tinggal di komplek elit Setia Budi Medan. "Pengintaian dilakukan hingga akhirnya akan dieksekusi. Namun gagal, karena pemilik rumah tidak bersedia bila hewan peliharaannya dibawa," kata Direktur Orangutan Information Center (OIC) Panut Hadisiswoyo yang ikut dalam tim BKSDA Sumut, Selasa (26/10). Sejak pukul 15.00 WIB tim pengeksekusi satwa liar BKSDA sudah berada di lokasi dibantu Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Orangutan Information Center (OIC). Ketegangan sempat terjadi, antara petugas dengan pemilik rumah yang ngotot ingin mempertahankan orangutan. Tampak petugas Polsek Sunggal bersama pihak pengamanan (security) komplek berjaga-jaga di lokasi untuk mengamankan, karena eksekusi berupaya dilakukan secara paksa yang akhirnya batal. "Jangan kalian ambil ya, awas! Suami saya masih di luar kota, kalau mau tunggu dia," teriak seorang wanita pemilik rumah. Menurutnya, suaminya Iskandar masih berada di Jakarta dan baru kembali Sabtu (29/10). Anak pertama Iskandar, Satria (12) yang ditanyai perihal keberadaan orangutan tersebut, mengaku hewan peliharaan tersebut dibeli ayahnya seharga Rp 2 juta sebulan lalu dari seorang warga Sunggal yang tidak diketahui namanya. "Orangutan itu dari Kalimantan !" sebutnya. Direktur Orangutan Information Center (OIC), Panut Hadisiswoyo mengatakan, kepemilikan orangutan secara illegal menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Perlindungan Sumber Daya Alam maka pelaku terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp 100 juta. Lebih lanjut Panut mengatakan, saat ini kondisi fisik orangutan itu sendiri sangat memprihatinkan, hal itu terlihat dari perutnya yang membuncit. "Orangutan itu secara alami kan tinggal di hutan, tentu bila dirumahkan seperti ini akan mengganggu perkembangannya," sebutnya yang menduga bahwa orangutan itu sudah lama dipelihara manusia, hal itu tampak dari interaksi saat melihat manusia tidak takut.
sumber: www.harian-global.com |
Rabu, 27 Oktober 2010
BKSDA Gagal Eksekusi Orangutan
Rabu, 20 Oktober 2010
Pelatihan Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Guide Bukit Lawang
Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Centre (YOSL - OIC) selama 5 hari tanggal 19 - 23 Oktober 2010 memfasilitasi para guide yang tergabung dalam Himpunan Pramiwisata Indonesia (HPI) Bukit Lawang untuk mengikuti Pelatihan Pendidikan Lingkungan Hidup. Para guide yang mengikuti pelatihan ini merupakan Angkatan IV yang mana YOSL - OIC juga melaksanakan pelatihan yang sama untuk angkatan-angkatan sebelumnya. Pelatihan ini diikuti secara intensif oleh 15 orang guide.
Materi-materi yang disampaikan dalam pelatihan ini antara lain : sejarah dan perkembangan pendidikan lingkungan, komunikasi - propaganda - pendidikan, bagaimana menjadi seorang fasilitator, mengenal kelompok sasaran, metode pembelajaran, pendidikan lingkungan sebagai daya tarik wisata, bagaimana menjadi tour guide sukses, dsb.
Catatan penting dari kegiatan pelatihan tersebut, yaitu :
- Guide diharapkan tidak hanya bertumpu kepada kedatangan wisatawan mancanegara saja tetapi juga melihat peluang pengembangan paket wisata kepada wisatawan domestik.
- Guide diharapkan tidak hanya mengandalkan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (hutan, sungai, terutama orangutan) sebagai paket wisata yang ditawarkan tetapi juga dapat melihat pengembangan potensi lain di daerahnya seperti agrowisata (wisata pertanian di kebun/sawah), wisata budaya, menjadikan kawasan desa wisata.
- Guide diharapkan inovatif dan kreatif sehingga dapat mengemas sebuah paket wisata yang menarik dengan beragam aktivitas yang mampu memberikan pengetahuan baru, pengalaman berpetualang, dan rasa senang kepada wisatawan.
- Guide diharapkan memiliki kemampuan memahami objek (kawasan, karakter wisatawan).
- Guide diharapkan memahami prinsip-prinsip ekowisata (edukasi, ekonomi, konservasi, partisipasi).
Materi-materi yang disampaikan dalam pelatihan ini antara lain : sejarah dan perkembangan pendidikan lingkungan, komunikasi - propaganda - pendidikan, bagaimana menjadi seorang fasilitator, mengenal kelompok sasaran, metode pembelajaran, pendidikan lingkungan sebagai daya tarik wisata, bagaimana menjadi tour guide sukses, dsb.
Catatan penting dari kegiatan pelatihan tersebut, yaitu :
- Guide diharapkan tidak hanya bertumpu kepada kedatangan wisatawan mancanegara saja tetapi juga melihat peluang pengembangan paket wisata kepada wisatawan domestik.
- Guide diharapkan tidak hanya mengandalkan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (hutan, sungai, terutama orangutan) sebagai paket wisata yang ditawarkan tetapi juga dapat melihat pengembangan potensi lain di daerahnya seperti agrowisata (wisata pertanian di kebun/sawah), wisata budaya, menjadikan kawasan desa wisata.
- Guide diharapkan inovatif dan kreatif sehingga dapat mengemas sebuah paket wisata yang menarik dengan beragam aktivitas yang mampu memberikan pengetahuan baru, pengalaman berpetualang, dan rasa senang kepada wisatawan.
- Guide diharapkan memiliki kemampuan memahami objek (kawasan, karakter wisatawan).
- Guide diharapkan memahami prinsip-prinsip ekowisata (edukasi, ekonomi, konservasi, partisipasi).
Langganan:
Komentar (Atom)