Rabu, 06 April 2011

Tim Awareness PNPM-LMP Bergerak ke Aceh Timur

Setelah melakukan kegiatan penyadartahuan di Kabupaten Aceh Selatan pada akhir tahun 2010 lalu, memasuki Januari 2011 ini Tim Awareness PNPM-LMP menuju Kabupaten Aceh Timur untuk melaksanakan kegiatan serupa. Sebelum berangkat, Tim Awareness telah melakukan beberapa evaluasi terhadap kegiatan penyadartahuan yang telah dilakukan sebelumnya. Evaluasi bertujuan agar Tim Awareness nantinya dapat memberikan gambaran kepada seluruh pihak yang terlibat tentang kegiatan yang telah dilaksanakan serta untuk mendapatkan informasi tentang kondisi-kondisi yang akan dihadapi di lapangan secara teknis. Dengan adanya kegiatan evaluasi maka Tim Awareness diharapkan dapat menyelesaikan kendala-kendala di lapangan serta meminimalisasi timbulnya permasalahan selama melaksanakan kegiatan.


Kegiatan penyadartahuan di Kabupaten Aceh Timur telah dilaksanakan pada tanggal 19 – 30 Januari 2011 mencakup tiga kecamatan yaitu Darul Aman, Serba Jadi, dan Simpang Jernih. Desa-desa yang telah dikunjungi oleh Tim Awareness PNPM-LMP yaitu Desa Keumuneng 2, Desa Alue Merbo, Desa Abgok Panah 2, Desa Tualang, Desa Lokop, Desa Rantau Panjang, dan Desa Simpang Jernih, serta satu sekolah yaitu SMA Negeri 1 Darul Aman.

Dari kegiatan penyadartahuan yang telah dilakukan, masyarakat di lokasi pilot project mulai memahami prinsip dan kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilakukan dan yang dilarang dalam PNPM-LMP. Terbangunnya komunikasi yang baik dengan masyarakat selama kegiatan penyadartahuan, hal tersebut terlihat dari respon masyarakat dalam menyampaikan pendapat maupun pertanyaan. Salah seorang masyarakat menyampaikan bahwa dahulu sumber daya alam tersedia melimpah dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat seberapapun dibutuhkan. Namun semakin berkembangnya zaman dan semakin banyaknya jumlah penduduk di muka bumi serta berubahnya perilaku manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam tersebut malah membuat kehidupan manusia terancam karena manusia tidak memikirkan kelestarian alam dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Masyarakat juga mengharapkan informasi tentang PNPM-LMP dapat disampaikan lebih intensif lagi kepada masyarakat sehingga masyarakat benar-benar terlibat mulai dari perencanaan, perancangan, pelaksanaan, sampai pengevaluasian kegiatan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi daerah yang dikunjungi oleh Tim Awareness PNPM-LMP hampir sebagian besar adalah daerah yang tersebar jauh dan terkadang infrasturktur jalan sulit dilalui dengan kendaraan biasa. Komunikasi maupun penyebaran informasi harus rutin dan intensif dilakukan oleh Tim Awareness dengan pelaku-pelaku teknis PNPM-LMP di lapangan agar kegiatan penyadartahuan di desa-desa dapat terlaksana dengan tepat dan berjalan dengan lancar.

Kamis, 13 Januari 2011

Roadshow PNPM-LMP di Aceh Selatan

Pada tahun 2007 Pemerintah Indonesia mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM Mandiri Pedesaan). Namun Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai salah satu program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan belum banyak menyentuh aspek lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam, sehingga penggalian gagasan dan usulan kegiatan selama ini yang muncul dari masyarakat yang terkait dengan aspek tersebut masih sedikit. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya agar aspek lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam menjadi bagian integral dari aktivitas pembagunan masyarakat di pedesaan.

Dengan pengintegrasian komponen lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya alam kedalam Progam PNPM Mandiri Perdesaan, selanjutnya disebut dengan PNPM Lingkungan Mandiri Pedesaan (PNPM-LMP) maka kegiatan ini akan mengutamakan perbaikan dan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam secara lestari kedalam salah satu program nasional dalam penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi di Indonesia.
PNPM-LMP bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di pedesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan pedesaan melalui pengelolan lingkungan dan sumber daya alam secara lestari.  Disamping itu juga terdapat tujuan khusus yaitu meningkatkan  kesadaran masyarakat perdesaan,  kapasitas masyarakat dan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam yang berkelanjutan serta meningkatkan tata pemerintahan lokal dalam perencanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Untuk menyebarluaskan informasi tentang pelaksanaan PNPM-LMP ini maka diperlukan suatu kegiatan sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat desa terutama di daerah-daerah pilot project agar masyarakat paham dan mengerti tentang program ini. Sehingga masyarakat dapat membuat perencanaan yang matang dalam mengajukan usulan kegiatan yang terkait dengan perbaikan dan pengelolaan lingkungan serta sumber daya alam secara lestari di desanya.

Mobile Awareness Unit-Orangutan Information Centre (MAU-OIC) bergabung dalam PNPM-LMP untuk memberikan awareness (penyadaran) sekaligus sosialisasi tentang program ini dibawah koordinasi Conservation Information Mobile-Wildlife Conservation Society (CIMO-WCS) telah melakukan roadshow PNPM-LMP ke Kabupaten Aceh Selatan pada tanggal 12-21 Desember 2010.
Kabupaten Aceh Selatan termasuk salah satu dari tiga kabupaten selain Aceh Timur dan Aceh Tengah sebagai lokasi PNPM-LMP. Di Aceh Selatan terdapat tiga kecamatan yang menjadi pilot project yaitu Kluet Tengah, Kluet  Timur, dan Pasie Raja. Ketiga kecamatan tersebut memiliki tanah yang subur, hal ini memberikan keuntungan bagi usaha pertanian sebagai tulang-punggung ekonomi daerah. Potensi perekonomian bergantung pada komoditi kakao, kemiri, nilam, pinang, padi, palawija, serta tanaman sayuran, dan juga peternakan serta perikanan air tawar.

MAU-OIC selama roadshow ke Kabupaten Aceh Selatan telah mengunjungi enam desa yaitu Desa Krueng Kalee, Ujung Padang Raisan, Lawe Sawah, Ladang Tuha, Koto Menggamat, dan Desa Mersak. Dalam kegiatan roadshow ini dilakukan pemutaran film lingkungan dan diskusi dengan masyarakat. Dari diskusi yang dilakukan dengan masyarakat muncul pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan langsung dengan usulan yang diajukan masyarakat dalam BLM (Bantuan Langsung Masyarakat). Masyarakat juga menyampaikan alasan-alasan tentang usulan-usulan yang diajukan dalam PNPM-LMP. Salah satu pendapat yang disampaikan adalah masyarakat di daerah menyambut gembira dengan adanya PNPM-LMP dari pemerintah pusat tetapi juga merasa program ini akan sia-sia karena saat program ini dilaksanakan di suatu daerah untuk menyelamatkan lingkungan, sementara di sisi lain di daerah tersebut terjadi pengrusakan lingkungan yang dilakukan oleh pihak tertentu (perusahaan/oknum) karena mempunyai izin yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat.
Selama roadshow, Tim MAU-OIC membagikan beberapa material penyadaran di desa-desa yang dikunjungi berupa buku untuk masyarakat berjudul ” Ayat-ayat Konservasi” yang berisi pandangan Islam tentang konservasi dan juga buku untuk anak-anak  berjudul ”Teman Hutan”. Di saat senggang Tim MAU-OIC juga membuka perpustakaan keliling untuk masyarakat.

Kamis, 09 Desember 2010

ASUS Foundation Tambah Tujuh Digital Opportunity Center

Rabu, 1 Desember 2010 | 00:04 WIB
 Serah terima simbolis bantuan Asus Foundation untuk Digital Opportunity Center
JAKARTA, KOMPAS.com - Di penghujung tahun ini, ASUS Foundation bekerja sama dengan Institute for Information Industry (III) dari Taiwan mengumumkan dibukanya tambahan tujuh Digital Opportunity Center (DOC) yang tersebar di Thailand dan Indonesia. Sejak 2008, ASUS Foundation dan III telah ikut serta menjadi bagian dari proyek APEC Digital Opportunity Center (ADOC) 2.0, yang memberikan edukasi digital bagi wanita dan anak-anak kurang mampu di kawasan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation).

"Kami merasa terhormat bisa membantu lembaga non-profit dalam kegiatan yang mulia ini. Mereka adalah pahlawan yang sebenarnya, dengan mencoba meningkatkan kehidupan masyarakat, dan kami berharap dapat memberikan kesempatan lebih untuk belajar secara elektronik bagi semua orang di wilayah ini," kata Ivy Lee, Chief Operation Officer dari ASUS Foundation dalam siaran persnya, Selasa (30/11/2010).

Di Indonesia, ASUS Foundation dan III mempersiapkan pembukaan lima DOC, dua di antaranya difasilitasi oleh Yayasan Budha Tzu Chi Wiyata yang telah diresmikan pada  Selasa (30/11/2010). Dilanjutkan dengan peresmian dua DOC bertempat di Universitas Syiah Kuala yang diresmikan pada Kamis 2 Desember 2010 di Banda Aceh. Kemudian satu DOC bertempat di Orangutan Information Centre (OIC) yang diresmikan pada Jumat 3 Desember 2010. Sedangkan di Thailand, pada 1 Desember secara resmi telah dibuka dua DOC, bertempat di dalam Kamp Mae La dan Umpieum Mai. Digital Opportunity Center  (DOC)di kawasan APEC kini sudah tersebar lebih dari 60 lokasi.

Selama dua tahun terakhir, kolaborasi ini telah menjangkau lebih dari 15.000 orang, dan akan terus melanjutkan gerakan ini untuk membantu memberikan kesempatan pembelajaran elektronik (e-learning) bagi mereka yang tidak memiliki akses ke komputer. Di lokasi DOC tersebut akan dilengkapi dengan PC all-in-one dan notebook terbaru ASUS untuk mereka yang belum familiar dengan komputer.

sumber: http://tekno.kompas.com

Senin, 06 Desember 2010

Orangutan di Rumah Sekda Langkat Disita Petugas

Jumat, 03/12/2010 23:15 WIB
Khairul Ikhwan - detikNews


Medan - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara mengambil seekor orangutan sumatera (Pongo abelii) dari rumah Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Langkat Surya Djahisa, Jumat (3/12/2010). Pengambilan itu dilakukan setelah orangutan sempat dipelihara beberapa lama di rumah tersebut.

Surya Djahisa langsung menyerahkan orangutan tersebut kepada tim BBKSDA yang datang ke kediamannya yang berada di Stabat, ibukota Langkat. Kepada wartawan dan petugas dari BBKSDA, Surya Djahisa menyebutkan, orangutan sumatera berjenis kelamin betina itu dia peroleh dari salah seorang pegawai di Dinas Pekerjaan Umum Langkat. Pegawai yang ia lupa namanya itu, menurut Surya, sempat meminta uang sebesar Rp 5 juta.

Tetapi Surya Djahisa mengaku tidak memenuhi permintaan uang tersebut, dengan alasan orangutan itu bukan untuk diperjualbelikan. Surya menyebutkan sedari awal ia menerima orangutan tersebut, ia sudah memberitahukannya ke pihak Balai Besar Taman nasinal Gunung Leuser (BBTNGL). Tetapi ia meminta waktu untuk merawat karena orangutan tersebut kondisinya tidak sehat.

"Dari sejak awal saya sudah mau menyerahkannya ke pihak Balai TNGL, tetapi karena kondisinya sakit, saya minta diberi waktu untuk merawatnya," ujar Surya.

Lebih lanjut Surya menyebutkan, untuk menyembuhkan orangutan yang diperkirakan berumur dua tahun itu, ia memanggil dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan. Hasilnya, bayi orangutan tersebut berangsur sehat, meski hanya mau makan nasi dan minum susu.

Surya menyatakan, ia bersedia merawat orangutan tersebut karena ia penyayang binatang. Karena itu, selama dirawat di areal perladangan miliknya yang dibentuk seperti kebun binatang mini di daerah Petumbukan, Langkat, ia berusaha menyediakan kandang yang sesuai dengan habitat orangutan.

Selain sempat memelihara orangutan, Surya Djahisa juga memelihara sejumlah satwa seperti kuda, rusa dan berbagai jenis burung di ladangnya. Sementara di rumah pribadinya, Surya juga memelihara berbagai jenis burung, salah satunya burung beo yang sudah pintar berbicara.

Orangutan sumatera itu kemudian dititipkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera yang dikelola Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) – Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) yang terletak di Desa Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Bagi SOCP-YEL, orangutan ini merupakan orangutan sumatera ke 200 yang diterima SOCP-YEL sejak tahun 2000 lalu.

(rul/mad)

sumber berita: www.detiknews.com
sumber video: http://tv.liputan6.com

Jumat, 19 November 2010

SMP Negeri 7 Medan Mendapatkan Penyuluhan tentang Global Warming

Jum'at (19/11/10), SMP Negeri 7 Medan kedatangan tim dari Divisi Education & Awareness YOSL - OIC. Kedatangan tim ini dalam bentuk kegiatan school visit (kunjungan sekolah) untuk memberikan penyuluhan kepada siswa tentang pentingnya konservasi alam dan pelestarian lingkungan hidup. Di dalam tim ini juga bergabung seorang fotografer asal London, Inggris, Layton Thompson yang baru pertama kali datang ke Indonesia dan bergabung sebagai volunteer (relawan) untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh YOSL - OIC.

Kegiatan ini dibuka oleh Bapak Mahmud selaku Kepala SMP Negeri 7 Medan dengan didampingi Bapak Sahrul selaku pembina Komunitas Hijau dan diikuti oleh 38 orang siswa/i yang tergabung dalam Komunitas Hijau SMP Negeri 7 Medan. Dalam sambutannya, bapak kepala sekolah menyampaikan bahwa sangat bergembira dengan terjalinnya kerjasama dengan YOSL - OIC yang mau memberikan bimbingan kepada siswa/i SMP Negeri 7 Medan dalam mengembangkan sikap dan perilaku sadar dan peduli lingkungan terutama Komunitas Hijau SMP Negeri 7 Medan. Bapak kepala sekolah juga menyampaikan akan mendukung sepenuhnya program-program yang akan dilakukan oleh Komunitas Hijau sesuai dengan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah dan beliau berharap kegiatan penyuluhan seperti ini tidak hanya diberikan kepada siswa/i SMP Negeri 7 Medan tetapi juga dapat dikembangkan ke sekolah-sekolah lain di kota Medan.

Dalam kesempatan ini Layton juga memperkenalkan diri kepada siswa/i yang hadir dan menyatakan rasa bangganya kepada siswa/i yang tergabung dalam Komunitas Hijau serta sangat mendukung adanya kelompok ini. Pesan yang disampaikan oleh Layton kepada siswa/i yaitu untuk bersama-sama melindungi dan melestarikan alam dan lingkungan di bumi ini karena bumi adalah tempat tinggal kita bersama. Rangkaian kegiatan
school visit yang dilakukan bersama siswa/i Komunitas Hijau SMP Negeri 7 Medan antara lain: pemutaran film lingkungan berjudul "Home Sweet Home", penyampaian materi tentang global warming disertai diskusi interaktif, dan pemutaran film berjudul " Ozzy si Ozon" serta dibukanya perpustakaan keliling untuk siswa/i yang tidak bisa ikut bergabung di ruangan untuk mengikuti kegiatan school visit.

"Saat ini bumi kita telah rusak karena berbagai aktivitas manusia seperti polusi yang disebabkan asap pabrik maupun kendaraan bermotor serta penggunaan energi yang boros. Harapan kita semua di masa yang akan datang bumi tidak semakin rusak tapi bisa bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman", demikian pendapat Nadira salah seorang anggota Komunitas Hijau setelah menonton film yang ditayangkan. Dimas juga menyampaikan bahwa kita semua dapat menyelamatkan bumi jika kita mau sadar dan peduli seperti menanam pohon untuk mengurangi polusi dan menghambat laju pemanasan global. Tim YOSL - OIC berharap kepada adik-adik Komunitas Hijau dapat menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 09 November 2010

KEMSA (Kemah Bersama) Komunitas Hijau SMP Negeri 7 Medan

SMP Negeri 7 Medan mengadakan kegiatan KEMSA (Kemah Bersama) yang diikuti oleh 4 organisasi ekskul yang ada di sekolah tersebut: PMR (Palang Merah Remaja), Pramuka, Pencak Silat, dan sebuah organisasi ekskul yang baru terbentuk di tahun 2010 yaitu Komunitas Hijau (Green Community). KEMSA ini dilaksanakan pada tanggal 5-7 November 2010 yang berlokasi di areal PTPN 2 Bumi Perkemahan Sibolangit. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan kemah ini sebanyak 228 siswa.

KEMSA ini merupakan kegiatan kemah pertama yang diikuti oleh Komunitas Hijau SMP Negeri 7 Medan yang diikuti sebanyak 31 siswa sekaligus momen untuk melantik anggota Komunitas Hijau yang baru saja terbentuk. Selama mengikuti kegiatan kemah, Komunitas Hijau SMP Negeri 7 Medan didampingi oleh Tim dari YOSL - OIC (Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Centre) yang memberikan materi-materi tentang konservasi alam dan pelestarian lingkungan hidup. Pada malam hari siswa mendapatkan materi dan menyaksikan pemutaran film lingkungan dari Tim OIC. Materi yang disampaikan antara lain Pengenalan Tentang Kawasan Hutan dan Manfaat Pohon sedangkan film yang ditayangkan adalah Leuser Sumber Kehidupan. Materi-materi lain disampaikan dalam bentuk games konservasi antara lain warna-warni hutan, detektif hutan, penebang pohon, dan sebagainya.


Semoga dengan terbentuknya Komunitas Hijau di SMP Negeri 7 Medan dapat mendorong generasi muda untuk peduli terhadap alam dan lingkungannya. Tim OIC juga berharap anggota Komunitas Hijau dapat lebih mandiri dalam segala hal. Tidak hanya kesadaran yang diperlukan dalam menyelamatkan alam dan lingkungan tetapi juga kepedulian untuk berbuat.

Selamat atas terbentuknya Komunitas Hijau SMP Negeri 7 Medan. Selamat berjuang adik-adik Komunitas Hijau untuk melestarikan alam dan lingkungan. Lakukan dari hal yang kecil, lakukan mulai dari sekarang, lakukan dari diri sendiri.

Senin, 01 November 2010

Bayi Orangutan Akhirnya Berhasil Disita

Medan (Analisa)

Setelah didesak sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli orangutan akhirnya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut berhasil menyita seekor bayi orangutan Sumatera dari sebuah rumah di Kompleks Taman Setia Budi Indah, Blok QQ No. 20 Medan, Kamis (29/10). Penyitaan ini merupakan upaya yang kedua kali dilakukan setelah pada upaya pertama Selasa lalu (26/10) gagal dilakukan.

Penyitaan orangutan yang dimiliki Iskandar juga sempat berlangsung tegang setelah pemilik rumah merasa keberatan dengan kehadiran puluhan wartawan yang sengaja meliput proses penyitaan. Penyitaan orangutan ini menurut Ketua Forum Konservasi Orangutan Sumatera (Fokus) Panut Hadisiswoyo harus dilakukan karena ini diamanahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang keanekaragaman hayati.

"Orangutan Sumatera merupakan satu dari sekian banyak satwa langka yang dilindungi jadi proses penyitaan mutlak dilakukan,” ujar Panut yang juga merupakan Direktur Orangutan Informatioan Centre (OIC). Selain melakukan penyitaan, pihak lembaga yang peduli terhadap konservasi orangutan Sumatera juga berharap agar kasus ini dibawa ke jalur hukum sehingga menimbulkan efek jera.

"Masyarakat sering kali tetap bandel memelihara orangutan Sumatera meski tahu ini melanggar hukum. Oleh karena itu, membawa kasus ini ke jalur hukum diharapkan bisa menimbulkan efek jera,” imbuh Panut.

Panut berharap BBKSDA Sumatera Utara menepati janjinya untuk membawa kasus ini ke jalur hukum dan pihaknya menurut Panut akan tetap mengawasi proses ini. Bayi orangutan sumatera yang oleh pemiliknya diberi nama Willy itu akhirnya dititipkan BBKSDA ke Pusat Karantina Orangutan Sumatera milik YEL-SOCP di Desa Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.


Menindak Tegas

Sebelumnya, sejumlah LSM seperti Orangutan Information Centre (OIC) mendesak BBKSDA Sumut dan kepolisian untuk menindak tegas pelanggaran hukum terkait pelanggaran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 21 tentang dilarang menangkap, membunuh, melukai, menyimpan, memelihara bahkan mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi seperti orangutan.

“Dalam Pasal 40 disebutkan pula bagi yang melanggar ketentuan tersebut maka dapat dipidana penjara maksimal 5 tahun dan denda Rp 100 juta,” kata Panut Hadisiswoyo kepada wartawan.

Dia sebelumnya juga sangat menyesalkan ketidaktegasan BBKSDA Sumut yang gagal menyita bayi orangutan tersebut pada langkah pertama yang dilakukan dengan alasan pemiliknya menunggu suaminya pulang. (maf)

sumber: www.analisadaily.com